Kamis, 10 September 2009
DI BALIK SUKSES INDUSTRI PADI VIETNAM
Industri pertanian Vietnam dalam dua dekade belakangan ini mencatat
rentetan prestasi spektakuler. Di antaranya, negara itu yang luluh
lantak oleh perang puluhan tahun tiba-tiba saja sudah mencapai
swasembada beras. Bahkan menjadi salah satu produsen dan eksportir
terkemuka dunia. Orang bertanya resep apa yang digunakan Vietnam.
Kerja keras dan disiplin tinggi, tentu saja. Juga kebijakan agraria
pemerintah yang memberi kesempatan petani menguasai lahan cukup untuk
digarap. Namun, kiranya tidak kalah penting, atau mungkin yang menjadi
kunci utama adalah "keberanian" Vietnam mengadopsi teknologi modern,
yakni teknologi nuklir untuk meningkatkan produksi padi.
Ketika banyak negara masih sungkan atau ragu menggunakan teknologi
radiasi nuklir untuk menghasilkan varietas mutant padi unggul, Vietnam
telah merangkulnya sebagai pilihan. Informasi "Far Eastern
Agriculture" mengungkapkan bahwa riset pengembangan varietas padi
unggul hasil mutasi oleh induksi radiasi nuklir diselenggarakan
bersama Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy
Agency/IAEA). Lembaga penelitian Vietnam terlibat termasuk Cuu Long
Delta Rice Research Institute di Can Tho.
Pada pertengahan l990-an kerjasama penelitian tersebut berhasil
memperkenalkan seri varietas padi unggul mutant VND yang pendek, tidak
mudah roboh dan mudah dipanen. Belakangan muncul varietas VND95-20
yang kini paling banyak digunakan petani di Vietnam terutama di
kawasan Delta Mekong karena tahan salinitas dan resistensi terhadap
hama serangga dan wereng coklat.
Varietas mutant unggul menonjol lainnya ialah VND99-3 yang bisa
dipanen 100 hari sejak tanam benih, sehingga bisa panen 3 kali
setahun.
Menurut Lembaga Ilmu-Ilmu Pertanian Vietnam Bagian Selatan, tiga
varietas hasil induksi radiasi nuklir telah memberi keuntungan bersih
bagi petani sejumlah US$ 348,4 juta pada tahun 2008.
Aman, Sangat Efisien
Teknologi induksi mutasi bisa mendukung upaya mewujudkan ketahanan
pangan sehingga semakin banyak negara yang mengadopsinya
Selasa, 08 September 2009
Empat Pekerjaan Menanti Penyuluh Bantu

Departemen Pertanian tidak lagi menerima tenaga penyuluh bantu pada tahun 2010, melainkan akan fokus menangani Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh (THL TBP) angkatan I sebanyak 7.218 orang. Kepada mereka yang sudah berpengalaman selama tiga tahun menjadi penyuluh bantu diharapkan mau menjadi Penyuluh Swadaya.
Menteri Pertanian Anton Apriyantono dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI membahas alokasi anggaran Deptan 2010 (2/9) mengatakan karena Deptan tidak lagi merekrut penyuluh bantu, maka sisa honor dan Bantuan Operasional (BOP) THL TBP tahun 2010 akan direlokasi untuk pendidikan dan pelatihan penyuluh swadaya, program Pemuda Membangun Desa (PMD) dan program magang bagi penyuluh bantu.
Kebijakan Departemen Pertanian untuk tidak merekrut penyuluh bantu pada tahun 2010 sepertinya untuk merespon keinginan para penyuluh bantu angkatan I yang direkrut Deptan tahun 2007. Sekitar seribu THL TBP telah mendatangi Kantor Pusat Departemen Pertanian menuntut agar kontrak mereka dapat diperpanjang meski sudah tiga tahun dikontrak.
Selain itu, mereka juga menuntut agar Departemen Pertanian mengupayakan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur regenerasi penyuluh pertanian melalui pengangkatan THL-TBPP menjadi Penyuluh Pertanian PNS.
“Departemen Pertanian berkomitmen melalui Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian untuk mengupayakan perpanjangan kontrak bagi THL-TBPP Angkatan Pertama (Tahun 2007) yang akan berakhir kontraknya pada Bulan November 2009 dan mengupayakan terbitnya Peraturan Pemerintah yang mengatur regenerasi penyuluh pertanian melalui pengangkatan THL-TBPP menjadi Penyuluh Pertanian PNS,” kata Ketua Forum Komunikasi THL-TBPP Nasional Dedy Alfian.
Kepala Pusat Pengembangan Penyuluhan Pertanian, Badan Pengembangan SDM Pertanian Deptan Dr. Mei Rochjat.D, M.Ed mengatakan mengakui adanya tuntutan untuk menerbitkan PP yang mengatur regenerasi penyuluh pertanian, namun saat ini pihaknya akan fokus pada penanganan THL TBP yang sudah nyata dan jelas.
“Yang sudah jelas bisa kita kerjakan untuk THL adalah pertama mereka bisa bergabung menjadi Pemuda Masuk Desa (PMD),” jelas Mei Rochjat kepada Sinar Tani. Program PMD sudah ada anggarannya di Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Hortikultura, Ditjen Perkebunan dan Ditjen Peternakan serta unit eselon I lainnya untuk tahun 2010. Menurutnya, paling tidak yang bisa ditampung dalam program ini ada sebanyak 1 ribu THL.
Kedua, lanjut Mei Rochjat adalah program magang di luar negeri. Salah satunya di Australia. Departemen Pertanian sudah menjajagi ke Negeri Kanguru itu untuk memastikan pekerjaan apa yang bisa diisi THL.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)